Si Kancil : Penanaman Moral Baik atau Buruk?
Pernah mendengar cerita Si Kancil, bukan? Ada beragam versi yang terus berkembang, satu diantaranya yang begitu familiar bagi saya adalah kisah Kancil dan Harimau. Singkat cerita, Si Kancil hendak mencuri mentimun, namun karena kecerobohannya ia pun tertangkap Sang Petani dan akhirnya dikurung untuk disembelih. Suatu saat, muncullah harimau di hadapan Kancil. Kancil memutar otak dan mengatakan pada Harimau bahwa ia dikurung untuk dinikahkan dengan putri petani. Aha, mendengar hal tersebut, Harimau pun tertarik. Ia memohon untuk menggantikan Kancil dalam kurungan tersebut, akhirnya Kancil pun bebas kembali keluar dari kurungan Petani. Membaca singkat dongeng Kancil tersebut, apa yang Anda pikirkan tentang karakter Kancil?
Pernah mendengar cerita Si Kancil, bukan? Ada beragam versi yang terus berkembang, satu diantaranya yang begitu familiar bagi saya adalah kisah Kancil dan Harimau. Singkat cerita, Si Kancil hendak mencuri mentimun, namun karena kecerobohannya ia pun tertangkap Sang Petani dan akhirnya dikurung untuk disembelih. Suatu saat, muncullah harimau di hadapan Kancil. Kancil memutar otak dan mengatakan pada Harimau bahwa ia dikurung untuk dinikahkan dengan putri petani. Aha, mendengar hal tersebut, Harimau pun tertarik. Ia memohon untuk menggantikan Kancil dalam kurungan tersebut, akhirnya Kancil pun bebas kembali keluar dari kurungan Petani. Membaca singkat dongeng Kancil tersebut, apa yang Anda pikirkan tentang karakter Kancil?
Bertahun lamanya, dalam pikiran saya tertanam bahwa Kancil
adalah hewan yang cerdik dalam dongeng tersebut. Hingga suatu saat, ada teman
yang ‘membangunkan’ saya bahwa itu bukan cerdik, namun licik. Nah lo? Ya, antara cerdik dan licik
sesungguhnya hanya dipisahkan oleh benang tipis. Perbedaan keduanya berada pada
sudut pandang pembaca. Jika Anda sempat membuka KBBI, arti kedua kata tersebut
merujuk pada pengertian panjang akal, namun licik mengerucut pada panjang akal
untuk hal yang negatif. Coba deh kita korelasikan dengan karakter Si Kancil,
lebih mengarah ke mana: licik atau cerdik? Saya lebih setuju dengan jawaban ‘licik’.
Dongeng Kancil biasanya diperuntukkan bagi anak-anak balita saat mengantarkan
mereka tidur. Secara tak langsung, akan ada penanaman karakter di sana.
Terbayangkah Anda jika karakter ‘licik’ Si Kancil dijadikan acuan baik bagi si
kecil? Wah, parah ini jadinya ya.. :o Salah-salah demi kepentingannya sendiri
si kecil berani menipu temannya ketika bermain.
Memperkenalkan dongeng Si Kancil tak selamanya salah. Tujuan kita menyelipkan moral baik bisa kok tetap termuat di dalamnya. Misalnya, dengan sedikit mengimprovisasi cerita. Jadi, di akhir dongeng kita tambahkan,... setelah merenung, Kancil sadar akan kesalahannya. Ia telah berbohong pada Harimau. Walaupun malu dan takut, ia memberanikan diri mendekati Harimau yang telah dibebaskan petani, “Mau, Harimau.. maafin aku ya, Mau.. aku sudah bohongin kamu, kamu mau nggak maafin aku?”. Dengan demikian, si kecil dapat mengambil pelajaran dari dongeng yang diceritakan. Kecermatan kita mewaspadai isi dongeng akan berpengaruh pada pertumbuhan psikologi anak. Setidaknya itu yang saya sadari beberapa waktu ini ;)
Memperkenalkan dongeng Si Kancil tak selamanya salah. Tujuan kita menyelipkan moral baik bisa kok tetap termuat di dalamnya. Misalnya, dengan sedikit mengimprovisasi cerita. Jadi, di akhir dongeng kita tambahkan,... setelah merenung, Kancil sadar akan kesalahannya. Ia telah berbohong pada Harimau. Walaupun malu dan takut, ia memberanikan diri mendekati Harimau yang telah dibebaskan petani, “Mau, Harimau.. maafin aku ya, Mau.. aku sudah bohongin kamu, kamu mau nggak maafin aku?”. Dengan demikian, si kecil dapat mengambil pelajaran dari dongeng yang diceritakan. Kecermatan kita mewaspadai isi dongeng akan berpengaruh pada pertumbuhan psikologi anak. Setidaknya itu yang saya sadari beberapa waktu ini ;)

Lagi merhatiin nih, keren ternyata. Rules_nya masih sama : mengampuni itu gaya hidup :)
BalasHapus