Melukis Rasa

|Kabut|


Diantara semua warna, terkadang aku harus memilih hitam. Kujumpai ia dalam pejam. Kucumbui pula saat malam semakin kelam. Kunikmati aromanya dalam secangkir kopi pekat. Atau pada dinding-dinding kamar yang mulai beku ia pun bersemayam.


Aku tak menolak pelangi yang kau beri. Indah benar ia berpendar menghibur. Bertumpuk-tumpuk banyaknya. Dan semakin takutlah aku: takut ia meleleh| takut ia tergelincir dan menyerah| takut aku tak sanggup memberinya yang sama, terlebih..


Hitam bukan pilihanku, ia ketetapan tiba-tiba. Bukan putih kupilih. Kali ini aku tak ingin naif. Tak ingin menjadi pusat perhatian. Bukankan pada panggung-panggung pentas senimu dulu tirai latarnya berwarna hitam? ia tetap ada dan memainkan peran, sesungguhnya.

Pada hitam yang bersanding dengan gelap, aku hanya ingin meringkuk sejenak saja di sana. Sebentar saja untuk bernafas.

|Kabut|

Diantara semua warna, terkadang aku harus memilih hitam. Kujumpai ia dalam pejam. Kucumbui pula saat malam semakin kelam. Kunikmati aromanya dalam secangkir kopi pekat. Atau pada dinding-dinding kamar yang mulai beku ia pun bersemayam.

Aku tak menolak pelangi yang kau beri. Indah benar ia berpendar menghibur. Bertumpuk-tumpuk banyaknya. Dan semakin takutlah aku: takut ia meleleh| takut ia tergelincir dan menyerah| takut aku tak sanggup memberinya yang sama, terlebih..

Hitam bukan pilihanku, ia ketetapan tiba-tiba. Bukan putih kupilih. Kali ini aku tak ingin naif. Tak ingin menjadi pusat perhatian. Bukankan pada panggung-panggung pentas senimu dulu tirai latarnya berwarna hitam? ia tetap ada dan memainkan peran, sesungguhnya.

Pada hitam yang bersanding dengan gelap, aku hanya ingin meringkuk sejenak saja di sana. Sebentar saja untuk bernafas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar