Diantara semua warna, terkadang aku harus memilih hitam. Kujumpai ia
dalam pejam. Kucumbui pula saat malam semakin kelam. Kunikmati aromanya
dalam secangkir kopi pekat. Atau pada dinding-dinding kamar yang mulai
beku ia pun bersemayam.
Aku tak menolak pelangi yang kau beri.
Indah benar ia berpendar menghibur. Bertumpuk-tumpuk banyaknya. Dan
semakin takutlah aku: takut ia meleleh| takut ia tergelincir dan
menyerah| takut aku tak sanggup memberinya yang sama, terlebih..
Hitam bukan pilihanku, ia ketetapan tiba-tiba. Bukan putih kupilih.
Kali ini aku tak ingin naif. Tak ingin menjadi pusat perhatian. Bukankan
pada panggung-panggung pentas senimu dulu tirai latarnya berwarna
hitam? ia tetap ada dan memainkan peran, sesungguhnya.
Pada hitam yang bersanding dengan gelap, aku hanya ingin meringkuk sejenak saja di sana. Sebentar saja untuk bernafas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar