Minggu, 20 Oktober 2013

ISTIQOMAH MEWUJUDKAN MIMPI


Setiap orang pasti memiliki passion masing-masing dalam hidupnya. Boleh jadi, beberapa diantara kita telah menuliskan rentetan panjang harapan dan cita yang ingin dicapai suatu hari. Salah? Tidak juga. Karena setiap orang wajib bermimpi. Yang keliru adalah mereka yang bermimpi dan tak melakukan apapun juga, selain hanya menuntaskannya sebatas kata.

Saya mungkin adalah salah satunya. Saya orang yang suka bermimpi, menumpuk berjuta ide kreatif, lalu bengong, “ini mulainya darimana yaa?”. Kecendrungan menikmati benar apa yang saya sukai dan mengabaikan hal yang lebih prioritas, itu kelemahan saya. Padahal saya tidak suka sesuatu yang lelet.  Waktu benar-benar adalah uang sehingga jika bisa, semua ingin saya rengkuh dalam satu waktu. Kenyataannya tentu saja tak semua ‘slalu linier dengan pola pikir saya (yaiyalah, hehehee.. :D). Kontras deh, ingin semua cepat, tepat, tapi yang prioritas justru terabaikan. Aergh...! Terkadang, menerima dan tekun adalah satu-satunya jalan yang harus saya terima sebagai jalan terbaik. At least, saya simpulkan, saya pandai bermimpi namun cenderung gagal mewujudkannya. Intinya: gagal.

Berbeda dengan saya, sahabat (hati) saya, memiliki cara berbeda untuk mewujudkan mimpinya. Ia begitu menikmati hari-harinya. Tak cepat-cepat amat tak masalah, asal selamat. Mungkin itu pepatah yang selama ini ia pegang. Jadi, kalau kuliah, ya kuliah saja. Kalau kerja, ya kerja saja. Fokus. Begitu katanya. Tentu saja ini bertolak belakang dengan saya. Kalau bisa kuliah sambil kerja, mengapa tidak melakukan keduanya? 

Saya lupa, saya yang menyukai tantangan, kerja cepat, segera, ’tap..tap..tap..’  tak lain adalah sosok yang moody. Di titik-titik akhir, saya mulai kehilangan gairah untuk menggapai mimpi itu. Tenaga saya mulai luruh. Kedap-kedip. Sementara sahabat saya tadi, ia menuntaskan mimpinya dengan baik dan tepat. Tiba giliran ini saya melongo saja, ternyata semangat saja tak cukup, suka tantanga saja juga belum cukup, istiqomah, istiqomah..ini yang belum saya punyai. Saya belajar betul kali ini  ^_~ . Bagaimana denganmu?


Minggu, 06 Oktober 2013

|Be Realistic|


Dalam pandangan awam saya, masih tertanam jelas bahwa doa dan ikhtiar adalah harga mutlak untuk mencapai keberhasilan. Seperti nenek-nenek saya bilang, doa tanpa ikhtiar sama saja artinya malas. Pun sebaliknya, iktiaaar mulu tanpa doa artinya sombong. Saya resapi kata-kata itu sepenuh hati.

Namun, kenyataanya untuk istiqomah menjalankan keduanya bukanlah suatu hal yang mudah (setidaknya untuk saya!). Ada masa-masa futur iman, ketika ketaatan mulai berkurang dan tergilas oleh padatnya kegiatan (padahal kalau dipikir ya, padat apa juga: artis bukan, presiden apalagi. Aigoo..).

Nah, sekarang bagaimana jika sebaliknya. Ada orang yang kerjanya hanya sesekali, selebihnya berdoaa saja. Penuh keyakinan rezeki ada yang atur. Saya salut (atau gregeten yaa? hehe..) bener nih degan orang macam ini. Apalagi lelaki dan sudah berkeluarga. Sungguh, saya belum sampai pada taraf itu. Pada keyakinan penuh tanpa ada usaha yang berarti. Nonsense. Bukankan Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha untuk itu? Jadi jelaslah, berusahalah sepenuh hati, selebihnya Allah yang akan mengatur hasilnya :)

Sekali lagi, ini hanyalah pandangan awam saya. Berdoa sangat penting, rezeki ada Allah yang atur, dan itu akan lebih maksimal jika kita mengusahakannya dalam ikhtiar yang maksimal pula. Hidup ini adalah tentang belajar, berusaha, dan berdoa.